Sabtu, 19 Maret 2016

Santunan Anak Yatim

Semalem gua di ajak bokap ke acara santunan anak yatim yang di adain di salah satu majlis ta'lim yang gua gak bisa sebutin nama majlisnya di sini, maaf. Karena gua gak mau di bilang promo.

Majlis ta'lim itu bukan cuma sekedar ngadain acara santunan aja, majlis ta'lim itu juga ngadain pengajian mingguan yang di laksanakan setiap malem jumat, beberapa pelajaran yang di ajarkan ke mereka fiqih, al-qur'an dan hadits, bahasa arab, dan membaca al-qur-an. Jadi mereka bukan cuma sekedar mendapat santunan, mereka juga dapat ilmu yang bisa jadi bekal mereka ketika besar nanti dan bekal itu adalah ilmu agama.

Selain di ajarin ilmu agama, mereka juga di ajarin untuk “TAMPIL”. Tampil di sini maksudnya mereka bukan cuma nerima ilmu agama aja walaupun mereka masih kecil tapi mereka di bimbing untuk berani mimpin tahlil, shalawatan, dan berpuisi. Yang intinya semua ini biar bisa jadi bekal mental mereka di kemudian hari kalau anak yatim seperti mereka juga bisa dan pantas untuk tampil di panggung untuk mengisi acara.

Tadi pas acara, beberapa dari mereka tampil ke panggung untuk mengisi acara yang di siapkan untuk mereka, mulai dari shalawatan, baca al-qur'an, dan sampai baca puisi untuk ayah atau ibu mereka yang udah menghadap Tuhan. Gua gak bisa tulis puisi mereka di sini karena gua gak kepikiran buat rekam puisi itu, gua terlalu sibuk untuk nahan air mata gua supaya gak tumpah pas denger puisi yang di bawain dengan suara anak-anak yang penuh keluguan. Mereka anak-anak yang kuat, mereka anak-anak yang di kasih kelebihan mental yang amat sangat kuat. Setidaknya kalau di bandingin sama gua, gua kalah jauh di bawah mereka untuk masalah ikhlas dan kekuatan hati.

Setelah acara pembacaan puisi lanjut ke acara selanjutnya yaitu acara muhadatsah atau percakapan bahasa arab, mereka naik ke atas panggung dan menampilkan hasil belajar mereka dengan berbicara make bahasa arab walaupun percakapan standar kaya misalnya “siapa nama mu”, di mana rumah mu", “di mana kamu belajar” dan “apa harapan mu”. Jangan liat percakapannya tapi liat keberanian mereka untuk tampil di atas panggung dan hasil belajar mereka selama ini.

lanjut ke acara selanjutnya pembagian hadiah untuk mengapresiasi ke inginan mereka “ngaji” dan mau meneruskan perjuangan Rasulallah SAW. Lebih tepatnya pembagian amplop tapi gua lebih suka nyebutnya hadiah buat mereka karena kemauan mereka untuk belajar ilmu agama dan keinginan mereka untuk tampil di acara mereka sendiri. Di situ gua di minta untuk ikut mengusap kepala mereka saat mereka mendapatkan hadiahnya tapi gua gak bisa nerima permintaan untuk ngusap kepala mereka, bukan karena gua gak mau menyentuh mereka. Gua cuma ngerasa gak pantes untuk ngusap kepala mereka sekalipun mereka seorang anak kecil tapi di mata gua mereka itu orang-orang yang kecil dari segi umur dan tubuh aja bukan dari segi mental dan ke ikhlasan. Harusnya gua yang di usap kepalanya sama mereka untuk bisa belajar arti ke ikhlasan dan arti kekuatan. Dan gua mau belajar itu dari senyuman mereka tadi.

Miris, cuma itu kata yang bisa gua ucapin untuk diri gua yang sekarang ini. Saat mereka dengan senyumnya mampu membahagiakan orang bukan cuma membahagiakan diri mereka sendiri justru gua sedang mencoba tersenyum untuk menutupi ketakuan gua dan kelemahan gua seandainya gua ada di posisi mereka, apa gua bakal bisa senyum setulus mereka atau gua lebih memilih untuk jadi anak yang nakal sebagai bentuk suatu protes gua terhadap takdir Tuhan yang seolah gak adil, di saat anak-anak yang lain bahagia dengan orang tuanya, gua malah sibuk ngusap air mata karena kehilangan salah satu atau kedua orang yang seharusnya jadi alesan gua untuk bertahan lewatin kerasnya hidup.

Di tangan seorang ayah gua bisa berlindung dari jahatnya hidup dan dari kerasnya takdir dan di tangan seorang ibu gua bisa berlindung dari susahnya hidup dan sakitnya takdir. Tapi mereka, mereka hanya bisa berlindung dengan senyuman dan air mata untuk melanjutkan hidup mereka. Senyuman untuk menggantikan sosok ayah di hidup mereka dan air mata untuk menggantikan sosok ibu di hidup mereka. Dan mereka lebih memilih untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang memanggil orang tua mereka dari pada lebih memilih untuk nakal dan lari jauh dari Tuhan.

Bangga bisa hadir di acara seperti itu dan sedih karena gak bisa berbuat banyak untuk mengambil bagian dari terciptanya senyuman mereka.

Makasi atas pelajaran hidup yang kalian ajarkan lewat senyuman tulus kalian yang tanpa kalian sadari kalian udah menginspirasi salah satu seorang pengecut kaya gua, makasi atas kebahagiaan yang kalian bagikan di acara semalam lewat penampilan hebat kalian, sekali lagi makasi karena udah menjadi guru kehidupan yang mengajarkan hidup itu terus berjalan oleh karena itu satu persatu orang yang kita sayang bakal ninggalin kita untuk meneruskan perjalanannya masing-masing.

Maaf karena belum bisa ambil bagian dari setiap alasan senyum tulus kalian, maaf karena belum bisa terus menerus mengayomi kalian, sekali lagi maaf karena gua cuma bisa hadir di acara besar kalian bukan acara mingguan kalian untuk sekedar sharing muhadhoroh untuk bekal kalian di kemudian hari.

Salam sayang gua buat kalian dan salam hormat gua buat guru kehidupan gua, karena kalian gua sadar orang yang gua sayang punya jalan masing-masing. Yang sekarang berada di samping gua suatu saat akan berpisah untuk meneruskan perjalannya dan gua harus tetep meneruskan perjalanan gua sampai akhirnya bertemu di ujung jalan bernama SYURGA…