[ Lieuwiliang, 20,37 malam ]
( malam ini aku debat sama iben cuma untuk bisa nulis tulisan kekaguman ku ke seorang wanita yang aku lihat tadi sore, iben gak suka aku nulis tentang wanita katanya "kalo mau nulis tentang wanita atau cinta di jelawe.wordpress.com aja jangan disini, blog ini khusus untuk nulis keresahan bukan nulis cinta-cintaan apalagi cuma sekedar galau", hah dia gak pernah tau apa yang wanita itu perlihatkan tadi waktu lewat, lagian mana mungkin cowo pemarah kaya dia bisa ngerti tentang wanita, cuma bisa marah dan marah, dia gak tau rasanya menggunakan hati soalnya dia udah kecanduan untuk bergantung sama ototnya. Dasar cowo payah.
Aku maksa dia buat ngijinin aku nulis tulisan kekaguman ini karena aku mau ngasih tau sesuatu ditulisan ini, tulisan yang aku harap bisa di sadarin sama kalian lewat pesan yang aku sampaikan lewat cerita bukan lewat obrolan kaya biasanya karena iben gak pernah mau ngobrolin tentang wanita, apalagi wanita yang aku kagumin sekarang ini, jadi kali ini tulisan aku bakal monolog "ngomong sendiri".
Semoga kalian temuin ya maksud yang aku sampaikan lewat setiap paragrafnya...
---
Sabtu pagi jam 10,29 aku berangkat ke salah satu pondok pesantren yang ada dibogor buat jenguk ponakan yang "nyantri" disana, sesampainya disana kakak dan kakak ipar aku langsung menuju ke ruangan yang biasa dipakai orang tua santri yang jengukin anaknya sedangkan aku langsung duduk disaung yang disediain dekat sama air kali yang lagi deras-derasnya karena kemarin malam turun hujan yang lumayan deras.
Jam menunjukan pukul 03,38 sore. Cukup untuk santai sekedar melepas lelah sisa perjalanan tadi, aliran sungai yang deras dan pepohonan yang masih rimbun menimbulkan kesan "alami" yang sangat memanjakan mata dan telinga. Aaahhh, memejam sejenak untuk menikmati aktifitas alam lewat telinga terasa lebih indah, mungkin karena mata sudah terlalu lelah untuk bisa diajak menikmati keindahan yang sudah beberapa kali dilihatnya ini, iya ini bukan pertama kalinya aku datang ketempat ini, ini sudah yang ketiga kalinya dan mata ini mungkin sudah hafal dengan keindahannya.
Saat sedang menikmati alam dengan memejam, samar-samar telinga ini dengar suara beberapa wanita, iya beberapa karena terdengar lebih dari dua orang yang berbicara. "Hah, kebiasaan. Wanita selalu berisik kalo udah ngobrol" gerutu dalam hati.
Saat aku buka mata untuk melihat siapa wanita yang mengganggu cara ku menikmati alam, aku lihat ada tiga orang santriwati yang lagi jalan mendekat kearah saung yang aku tempati. Ketiga wanita itu: yang pertama memakai baju muslimah warna ungu dengan rok berwarna coklat dan berjilbab ungu, yang kedua memakai baju muslimah warna kuning dengan rok berawarna hitam dan jilbab warna hitam, dan yang terakhir memakai baju muslimah warna abu-abu dengan rok warna coklat dan jilbab warna merah. Dari ketiga santriwati itu ada satu yang membuat aku lupa dengan gangguan yang mereka buat dan alasan kenapa aku buka mata untuk lihat siapa yang ganggu obrolan ku dengan alam barusan.
Santriwati yang memakai baju muslimah warna kuning dengan rok warna hitam dan jilbab warna hitam, iya dia santriwati kedua yang aku gambarkan di paragraf sebelum ini. Dia memiliki mata yang indah, bentuk mata tajam yang sudut ujungnya runcing dengan bola mata yang warna hitamnya lebih dominan. Aaaahh mata itu, hanya sekejap ku lihat tapi bisa membekas cukup dalam diingatan, sampai detik ini saat aku nulis tulisan ini aku masih bisa lihat mata itu walaupun dengan mata terpejam.
Mata sebagus itu punya daya tarik tersendiri buat ku, tak perlu saling tegur atau kenal lebih jauh, aku sudah luluh kalau dihadapkan dengan mata sesempurna itu. Aku kalah, aku kalah dalam tatapannya. Tatapan yang penuh kesan mistis "dilihat sekali bikin penasaran, dilihat berkali-kali bikin suka". Iya aku kalah, aku ditaklukan hanya lewat tatapannya. Rasa kesal karena terganggu tadi berubah jadi rasa kagum saat melihat "si pengganggu" yang sempurna ini.
Saat beberpa kali tak sengaja saling beradu tatap dengannya, mereka bertiga berjalan melewati saung yang sedang aku tempati dan melewati aku yang sedang menggagumi. Tak berapa jauh dari saung, mereka bertiga berhenti didepan ruang serbaguna untuk menegur seorang santriwati yang sedang merapihkan bangku yang akan digunakan untuk acara lomba bulanan, saat mereka sedang berbincang santriwati yang memakai baju muslimah warna ungu dengan rok warna coklat dan jilbab ungu itu-santriwati yang ku gambarkan pertama diparagraf sebelum ini- bercanda dengan santriwati yang sedang merapihkan bangku, entah apa yang lucu tapi semuanya tertawa dan aku lihat tawa si santriwati pemilik mata indah itu tertawa dengan malu-malu terlihat mulutnya yang ditutupi tangan, suaranya yang terdengar datar -tidak terbahak-bahak dan tidak terlalu pelan- dan diakhir tawanya iya menutup kebahagiaannya dengan senyuman. Aaahh, wanita macam apa dia yang diberi sebegitu banyak kelebihan yang membuatnya makin, makin, makin, dan makin terlihat cantik. Mulai dari matanya, suara tawanya, dan kini senyumannya.
Aaahh, Tuhan mungkin Kau sedang "Pamer" hasil karya ciptaan-Mu atau apapun alasannya aku bahagia bisa "diganggu" tanpa sengaja olehnya, justru gangguannya sekarang bukan suara obrolannya dengan kedua temannya yang berisik tadi tapi mata, suara tawa, dan senyumannya yang menganggu keinginan ku untuk menikmati alam seperti tadi karena setiap aku memejam bayang mata dan senyumannya tergambar jelas dan suara sungai yang tadi kudengar kini terganti oleh suara tawanya.
Setelah obrolan dan candaan dia ke santriwati yang sedang merapihkan bangku itu, tiga santriwati itu pergi entah pergi keasrama mereka atau kekelas. Yang aku tau salah satu dari ketiga santriwati itu tidak pergi, dia menetap diam didalam hayalan ku dan menjadi alasan aku menuliskan tulisan ini.
Sebelum kamu pergi dari hayalan ku boleh aku tanya satu hal?
"Siapa nama mu?"
---
Hahaha itu tulisan aku tentang wanita yang sampe malam ini gak bisa aku lupain, aneh padahal ketemu sebentar dan dia juga udah gak keliatan lagi semenjak pergi dari ruang serbaguna itu aku gak liat dia lagi. Entahlah, tapi sebelum dia pergi dia udah ninggalin sesuatu yang gak bisa dia bawa waktu pergi tadi. Yups, kenangan. Dia gak tau kalo semua tingkah lakunya dan tatapan matanya jadi kenangan tersendiri buat seorang cowo yang lagi duduk disaung yang diem-diem perhatiin dia sampe dia pergi.
Hahaha aku gak tau kenapa pengen banget nulis ini sampe harus debat dulu sama iben tapi yang aku tau ada hal yang bisa diambil dari cerita diatas, beberapa pelajaran yang bisa diambil kalo tau maksud dari setiap paragrafnya, inget ya paragrafnya. Hehe
Udah ah, mau liat dia lagi di... )
Dasar cowo lemah, suka cewe cuma bisa nulis doang. Samperin dan bilang kalo lu suka sama dia.
( yeh katanya gak mau nongol, nah ini nongol hahaha gak mau ah. Takut ).
Ah payah lu, kalo takut mah jangan suka sama cewelah. Make segala nyampah lagi nulis-nulis hal yang gak penting kaya gini.
( ini penting!!! Kamu gak akan tau kalo kamu gak baca, makanya baca biar sama cewe juga gak tertutup banget ).
Dih males banget gua bacanya. Mendingan gua maen game daripada suka-sukaan sama cewe Ro.
( udah sana-sana, ganggu tulisan orang aja. Udah hush hush hush ).
iya iya, buset sensi banget lu kalo lagi bahas cewe. Yaudah iya gua diem dah.
( udah ah nulisnya segini aja, males udah ada yang ganggu ).
Hahahahaah cieeeee ada yang ngambek.
( BODO ).
Hahaha iya gua gak ganggu lago ro, yaudah lanjutin dah.
( udah ah, dadaaaaaaahhh semua )
Hahahaha dia ngambek, yaudah segini aja dah tulisannya soalnya aro gak mau lanjutin jadi udahan aja ya, gua juga gak ngerti dia nulis apa jadi gua gak bisa nambahin. Dadaaaaaahhh gua mau becandain aro dulu biar gak ngambek.
