Bukan tempatku di tengah hamparan tanah luas.
Bukan tempatku di pedalaman hutan lebat.
Bukan tempatku di antara hiruk pikuk kota besar.
Dan bukan tempatku berada dikeramaian yang semu.
Aku berada di sini, di tempat ini. Berdiri di atas pasir ini dengan pandangan jauh ke depan. Pandangan yang hanya membuat mataku serasa tak berguna, melihat tapi tak semua terlihat.
Aku di sini bukan untuk melihat apa yang ingin aku lihat, jauh dari itu semua. Ada sesuatu yang mata ini tak sanggup lihat, sesuatu yang ada tapi tak terlihat mata, sesuatu yang nyata tapi tak kasat mata.
Bukan, ini bukan sesuatu hal yang berbau mistis. Aku ke sini bukan untuk hal mistis, aku ke sini untuk diriku sendiri, untuk diriku yang merasa sudah terlalu dibudakan oleh ego.
Di hamparan lautan luas ini aku merasa kecil, aku merasa tak punya kuasa untuk kesombonganku, apa yang aku punya dan aku bisa seolah lenyap di hadapan luasnya lautan. Apa daya, aku yang hanya manusia biasa yang kehidupannya bergantung pada udara harus di hadapkan pada lautan luas, lautan lepas.
Di hadapan ciptaan-Nya aku sudah sekecil ini, di hadapan makhluk-Nya aku sudah selemah ini, dan di hadapan karya-Nya aku sudah setidakberdaya ini. Apa masih pantas egoku bersuara dengan suara kesombongan?
Aku sekarang berdiri di hadapan lautan lepas. Aku ingin seperti laut, memiliki pemikiran seluas laut dan mempunyai hati sedalam laut. Aku mau, aku ingin, dan aku butuh.
Aku hanya manusia biasa, yang di hadapkan pada air sebanyak ini hatiku sudah bergetar takut, di hadapkan pada ombak sebuas ini tubuhku sudah menggigil, di hadapkan pada karang sekeras ini keringatku sudah bercucuran. Apa yang masih bisa aku sombongkan kalau melihat salah satu dari ketiga itu saja aku sudah kalah.
Laut tidak biru, dia hanya memantulkan apa yang langit tampakan. Kalau laut yang seluas dan sebuas ini saja bisa menerima keadaan dan kehidupan sekitar, seperti bertetangga dengan langit, berteman dengan awan, dan bersahabat dengan hujan. Apa aku yang lemah ini pantas untuk merasa terganggu dengan kehidupan sekitar yang sebenarnya tidak menggangguku?
Laut seluas ini bisa membuat ombaknya yang buas bebas beraksi sampai batas bibir pantai, lihat bahkan lautpun mengerti arti sebuah batasan sesuatu yang selama ini tak ku miliki, setiap kemarahanku yang tak berbatas, setiap kebencianku yang tak berbatas, dan setiap egoku yang tak berbatas juga, seringkali semua keluar bersamaan untuk saling menunjukan kehebatanku dan untuk memuaskan egoku. Aku tidak hebat tanpa pertolongan-Nya, apa yang bisa ku lakukan tanpa pertolongan-Nya. Tapi setiap pertolongan-Nya datang selalu saja egoku cepat mengakui kalau itu hasil perbuatanku, kalau semua itu karena ketakutan mereka terhadapku.
Sebenarnya aku tak bisa berenang, justru aku hampir beberapa kali mati karena tenggelam. Tapi alasan aku suka laut bukan karena keindahannya, bukan karena merdu suara ombaknya, dan bukan karena kehidupan di dalamnya. Aku suka laut karena aku tau, cuma di sini aku bisa membunuh egoku, tempat yang bisa kapan saja menenggelamkanku, tempat yang bisa kapan saja menyeretku dengan ombaknya, dan tempat yang bisa kapan saja membenturkanku dengan karangnya. Laut adalah tempat di mana semua egoku runtuh dibawa oleh ombak ke tengah lautan sampai akhirnya hilang menguap bersama panasnya sinar matahari.
Aku suka laut bukan untuk mencintai, aku suka laut bukan untuk menyayangi, dan aku suka laut bukan untuk memiliki. Tapi aku suka laut karena dia bisa meruntuhkan egoku dengan cara yang sangat indah, meruntuhkan egoku dengan cara yang elegan, dan meruntuhkan egoku dengan cara yang berkelas.
Aku suka di sini dan akan kembali ke sini, bukan hanya untuk menikmati keindahannya tapi untuk mengendalikan diriku sendiri dari ego yang sudah mendarah daging ini.
Laut, seharusnya tempatku adalah di sisimu...
